Makassar Buserterkini com.
Matahari mulai merunduk di ufuk barat, menebarkan warna oranye‑merah yang menghangatkan pasir Pantai Losari. Angin sore yang berbisik melintasi dermaga‑dermaga Pelabuhan Makassar membawa aroma rempah‑rempah, sambil mengantukkan rasa lapar yang menanti waktu berbuka. Di sinilah, tepat pada Senin, 2 Maret 2026, keluarga besar PT PELNI (Persero) Cabang Makassar berkumpul dalam satu momen yang tak hanya sekadar mengisi perut, melainkan menyalakan kembali rasa persaudaraan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Suasana Awal: Kedatangan dan Sambutan
Pintu gerbang utama kantor pusat PELNI Makassar terbuka lebar, menyambut para pegawai, suami‑istri, anak‑anak, bahkan kakek‑nenek yang datang bersama. Bus‑bus perusahaan berhenti berderet, menurunkan penumpang yang membawa tas berisi makanan khas rumah, kue-kue kering, serta kantong-kantong kecil berisi kurma. Senyum lebar menghiasi wajah para petugas keamanan, yang sambil mengucapkan “Selamat Berbuka” melambaikan tangan.
Murid‑murid SD yang melaksanakan program pramuka di kantor mengatur meja‑meja panjang yang telah dipersiapkan sejak pagi. Setiap meja dihiasi taplak batik “Batik Ganti” berwarna hijau zamrud, dengan centerpiece berupa rangkaian bunga melati dan mawar putih—simbol kesucian dan kebersamaan. Di tengah ruangan, sebuah panggung kecil menampung mikrofon dan speaker, tempat para pemimpin PELNI akan menyampaikan sambutan singkat sebelum takjil dibagi.
Takjil: Kisah di Balik Setiap Gigitan
Takjil pertama yang muncul di atas nampan perak berkilau adalah kurma Medjool, buah yang menjadi primadona setiap buka puasa. “Kurma ini kami dapatkan dari petani di Lampung, di sana kami memiliki program kemitraan sosial dengan komunitas petani,” jelas Ibu Siti, Manajer CSR PELNI. Tak jauh dari sana, ada kolak pisang hangat beraroma kayu manis, yang dibawa oleh Pak Budi, supervisor kapal penumpang “Tanjung Kembang”. “Saya ingat masa muda dulu, kolak ini selalu ada di rumah ibu saat Ramadan. Kini, saya ingin membagikannya kepada semua keluarga besar di sini,” ucapnya sambil mengangkat sendok.
Tidak ketinggalan, ada pembuatan es kelapa muda secara langsung di lapangan. Anak‑anak dibimbing oleh tim Humas PELNI untuk memotong kelapa, meneguk airnya, lalu menggelasnya dengan es batu dan sirup gula aren. Lantunan tawa mengiringi suara “slurp” yang bersahutan, menandakan kebahagiaan sederhana yang mengikat semua generasi.
Makan Malam: Dari Laut ke Meja
Dengan berbuka selesai, hidangan utama pun dibuka. Sekitar 250 porsi nasi uduk dihidangkan bersama aneka lauk: ikan tongkol bakar bumbu kuning yang dipasang di atas daun pisang, sambal terasi yang pedasnya masih terasa menantang, serta sayur asam khas Makassar yang menyeimbangkan rasa. Keunikan menu ini bukan sekadar kuliner, melainkan simbol dari “jembatan” yang dimiliki PELNI antara pulau-pulau Indonesia—setiap rasa mewakili satu bahu laut yang harus dijaga.
“Setiap kapal kami membawa barang, penumpang, serta harapan. Begitu pula makanan ini kami kirimkan dari satu pulau ke pulau lain, menyeberangi ombak demi kebersamaan,” ujar Bapak Andi, Direktur Operasional PELNI Makassar. Ia menambahkan, “Kita makan bersama, berarti kita mengarungi samudra yang sama, menapaki satu tujuan: melayani rakyat Indonesia.”
Sesi Cerita & Kegiatan Interaktif
Setelah makan, para pegawai dan keluarga diundang untuk berpartisipasi dalam “Pojok Cerita”. Di sana, Pak Rudi, Kapten kapal “Kota Surabaya”, menceritakan pengalaman mengarungi badai di Selat Makassar pada tahun 2024, ketika timnya harus bertahan selama 48 jam tanpa sinyal. Anak‑anak terpesona, dan beberapa orang dewasa meneteskan air mata mendengar kegigihan sang kapten.
Tidak lama kemudian, kompetisi “Mancing Ikan Tahan Lama” dimulai, di mana tim-tim kecil beradu memancing ikan lele di kolam buatan. Tawa riang dan sorakan “Ayo, ayo!” mengisi udara, menandai pergeseran dari formalitas ke kebersamaan yang santai. Pemenang mendapat piagam bergambar kapal “KRI Sinar Emas” dan hadiah voucher makan malam di restoran “Selat Laut”.
Penutup: Doa Bersama & Harapan Masa Depan
Jam menandakan hampir tengah malam, ketika semua melangkah ke area terbuka dekat dermaga. Masjid kecil yang berada di sisi kanan tampak bersinar oleh lampu lentera; imam memimpin sholat Tarawih bersama, sementara para ibu menyiapkan kantong takjil tambahan untuk dibagikan kepada pekerja shift malam.
Setelah sholat, Direktur Utama PELNI, Ibu Nurul, memegang mikrofon. Suaranya tenang namun penuh keyakinan: “Kita telah melewati banyak tantangan, namun Ramadan ini mengajarkan kita tentang kesabaran, keikhlasan, dan persaudaraan. Semoga semangat ini terus mengalir dalam setiap kapal yang berlayar, dalam setiap layanan yang kita berikan kepada masyarakat Indonesia.”
Doa ditutup dengan seruan “Aamiin”, lalu lampu-lampu meredup perlahan, meninggalkan kilau bintang di atas laut. Para peserta kembali ke kendaraan masing‑masing, namun hati mereka masih dipenuhi rasa kebersamaan yang tak terukur.
Refleksi: Lebih Dari Sekadar Buka Puasa
Buka puasa bersama keluarga besar PT PELNI Cabang Makassar pada 2 Maret 2026 bukan sekadar acara tahunan. Ia menjadi cermin dari nilai-nilai inti perusahaan: gotong‑royong, kepedulian sosial, dan keberlanjutan. Di balik setiap piring kurma, tiap suapan ikan bakar, ada cerita tentang komitmen yang melintasi lautan, menghubungkan pulau‑pulau, dan menguatkan jaringan manusia yang menumpahkan dirinya untuk satu tujuan—menjadikan Indonesia lebih bersatu, lebih kuat, dan lebih sejahtera.
Ketika bulan Ramadan menutup tirai malamnya, tak ada yang lebih berkesan daripada melihat wajah‑wajah berseri, tertawa, dan berbagi. Sebuah pelayaran yang dimulai dari satu meja makan, berakhir di hati setiap insan yang hadir, menunggu kesempatan selanjutnya untuk bersatu kembali di pelayaran yang sama—dalam kerja, dalam kebajikan, dan dalam iman.
(Arifuddin sikki)

