Makassar Buserterkini com.
Berjalan di trotoar kota yang berdebu,
menyusuri jejak‑jejak kaki yang tak pernah berhenti,
kita sering lupa menengok ke dalam diri,
menanya pada hati yang terdiam di antara deru motor dan derita.
Mengapa hidup ini?
Apakah sekadar menambah angka pada kalender,
menumpuk harta yang tak pernah memuaskan,
atau menorehkan prestasi yang mudah dilupakan?
Jika jawaban itu terperangkap dalam kebisingan dunia,
maka apa artinya menapaki hari‑hari yang penuh sesak?
Berhenti sejenak. Tarik napas dalam‑dalam.
Rasakan getar‑getar kecil di dada,
seperti bisik‑bisik yang memanggil nama‑namamu.
Itulah panggilan sederhana, yang tak perlu megah,
hanya sebuah sembahyang — satu titik hening di tengah riuh.
Sembahyang bukan sekadar ritual, bukan pula formalitas yang terpaksa.
Ia adalah jendela yang membuka ruang bagi jiwa yang lelah,
menyapu bersih debu‑debu keraguan,
menyulam kembali rasa syukur pada setiap helaan nafas.
Jika hati tak dipenuhi doa,
maka apa arti langkah yang kita jejak?”
Kata‑kata ini tidak bermaksud menilai siapa yang beribadah atau tidak,
tetapi mengajak kita menelusuri makna di balik setiap tindakan.
Ketika kita menundukkan kepala, bahkan sekadar menutup mata,
kita memberi diri kesempatan untuk bertanya:
Apa yang paling saya syukuri hari ini?
Bagaimana saya bisa menjadi cahaya bagi orang lain?
Di mana saya menemukan damai di tengah gelombang?
Jawaban‑jawaban itulah yang memberi bobot pada eksistensi kita.
Tanpa ruang untuk merenung, hidup bisa berubah menjadi maraton tanpa garis finish,
dimana kelelahan menjadi teman setia, dan kebahagiaan hanyalah bayang‑bayang.
Sembahyang bukan sekadar mengucapkan kata‑kata,
melainkan menyalakan lilin di altar hati,
yang menuntun langkah kita melewati lorong‑lorong gelap.
Sebuah lilin yang, meski kecil, mampu menepis bayang‑bayang ragu,
menjadi penanda arah ketika kita tersesat.
Jadi, apa kita hidup di dunia ini kalau tak sembahyang?
Mungkin kita tetap berjalan, tapi tanpa kompas.
Kita masih mengumpulkan pengalaman, namun hati tetap berdebar‑debar,
menanti saat yang tepat untuk menemukan arti sejati.
Ajakan Hari Ini
Berhentilah sejenak. Duduklah di sudut sunyi,
Tarik napas, tutup mata, dan bisikkan satu doa—bukan karena keharusan,
tetapi karena ingin memberi ruang bagi dirimu untuk merasa, bersyukur, dan berkoneksi.
Karena, ketika doa mengalir,
hidup pun menemukan alasan untuk terus melangkah.
Semoga setiap langkahmu dipenuhi cahaya,
dan setiap doa menjadi benih yang tumbuh menjadi harapan.
(Arifuddin sikki)

