Makassar Buserterkini com.
Serangan militer yang dilancarkan oleh *Amerika Serika bersama Israel* terhadap *Iran* pada saat umat Muslim Iran tengah menjalankan ibadah puasa menghadirkan ironi yang tajam dalam percaturan geopolitik global. Ramadan, yang bagi umat Islam adalah bulan pengendalian diri, refleksi spiritual, dan peneguhan nilai kemanusiaan, justru berubah menjadi latar dentuman rudal dan sirene pertahanan udara.
Secara politik dan militer, Washington dan Tel Aviv tentu memiliki argumentasi keamanan mereka sendiri. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai langkah preventif terhadap ancaman strategis yang dianggap membahayakan stabilitas kawasan. Namun, dalam perspektif moral dan kemanusiaan, momentum serangan itu memunculkan pertanyaan besar: apakah eskalasi kekuatan bersenjata adalah satu-satunya bahasa yang tersisa dalam diplomasi internasional?
Iran, di sisi lain, tidak tinggal diam. Serangan balasan terhadap aset-aset militer Amerika dan infrastruktur strategis Israel menunjukkan bahwa konflik ini bukan sekadar pesan simbolik, melainkan konfrontasi terbuka yang berpotensi melebar menjadi perang regional. Dalam logika hubungan internasional, respons tersebut dapat dipahami sebagai upaya menjaga deterensi dan harga diri nasional. Akan tetapi, setiap balasan juga memperpanjang rantai kekerasan yang semakin sulit dihentikan.
Yang menjadi keprihatinan utama adalah rakyat sipil. Mereka yang berpuasa, beribadah, dan menjalani kehidupan sehari-hari tidak pernah menjadi perancang strategi militer. Ketika konflik terjadi di bulan Ramadan, dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis dan spiritual. Ibadah yang seharusnya berlangsung dalam ketenangan justru dilakukan dalam kecemasan.
Konflik ini menunjukkan satu hal: ketegangan antara kekuatan besar dunia dan aktor regional belum menemukan titik temu yang rasional dan berkelanjutan. Selama pendekatan keamanan masih didominasi oleh doktrin serangan dan balasan, maka stabilitas kawasan Timur Tengah akan tetap rapuh.
Opini ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan salah satu pihak, melainkan untuk menegaskan bahwa perang — siapa pun yang memulai — selalu menyisakan luka lebih panjang daripada kemenangan yang diklaim. Dalam bulan yang dimaknai sebagai waktu menahan diri, dunia justru kembali menyaksikan bagaimana kekuatan militer mengambil alih panggung diplomasi.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang berani menghentikan siklus ini.
(Arifuddin sikki)

